Tangan kecil terburu-buru menyentak ke lantai. Mencoba untuk berdiri. Dua kali tubuhnya menghunjam lantai. Dia tidak menyerah. Bocah itu mencoba lagi. Kali ini berhasil menegakkan punggung dengan sedikit terhuyung.
Kaki kecil itu mulai bergerak. Melangkah dengan payah. Terlihat sedikit peluh mengalir didahinya. Gores luka lama di siku terpampang jelas. Mengingatkanku kejadian sepekan yang lalu. Ketika dia mencoba berdiri untuk kali pertama. Waktu itu aku pikir dia akan menyerah. Ternyata tidak. Hari ini aku melihat bukti semangat pantang menyerah itu.
Aku tersenyum. Jongkok didepan pintu. Menunggunya. Aku tahu ini sudah pukul setengah tujuh lebih 5 menit. Artinya aku akan terlambat masuk kantor. Namun aku tahu, tidak ada yang lebih berharga didunia ini selain tertawa girangnya. Jangankan 5 menit lagi. 5 ribu menit pun akan aku berikan untuk mendapatkan pelukannya.
Terkadang aku bertanya dalam hati. Untuk apa aku bekerja. Berangkat pagi-pagi. Pulang sehabis maghrib baru sampai kembali di rumah. Beberapa teman sekantor malah lebih luarbiasa lagi. Sebut saja Wawan. Setiap jumat sore, dia harus naik ojek ke stasiun. Bersiap memulai perjalanan rutin. Menempuh lebih dari 800 kilometer untuk menemui tiga orang yang sangat dicintainya di Kota Malang. Demikian juga Kris, Idham, dan masih banyak lagi.
Untuk apa aku dan kalian bersusah payah begitu? Apakah tidak ada pekerjaan lain? Paling tidak bisa lebih dekat dengan keluarga. Yang menjamin begitu mata anak kita terbuka, Ayahnya masih ada disampingnya. Membacakan cerita ketika mau tidur. Menggendongnya ketika menangis. Menyuapinya ketika lapar. Mengipasinya ketika kepanasan.
Semangat. Ya, Semangat. Ternyata itu yang aku mau tunjukkan kepada Aisha. Bahwa ayahnya tetap semangat. Tetap bergairah. Dia tidak tahu bahwa tempat bekerja ayahnya sedang dicaci maki orang. Sedang dikeroyok. Bagai kapal layar dihamtam ombak setinggi monas. Dia tidak tahu dan tidak perlu tahu.Yang dia perlu tahu adalah ayahnya tetap tersenyum. Bisa tertawa bersamanya. Bisa diajak bermain.
Aaaayyy.....!!
Teriakan itu membuyarkan lamunanku. Nyaring memekakkan telinga. Masih dua langkah didepanku. Bisa saja aku datang mendekat. Tapi sengaja tidak aku lakukan. Satu langkah baginya adalah seribu cahaya bagiku. Satu senyum dari bibirnya, seribu pendar dihatiku. Satu kali tawanya, seribu kali bintang dianganku.
Aisha, Ayah sayang sayang kamu...

No comments:
Post a Comment