Kalimat ajaib berbahasa Arab ini bermakna ringkas tapi
tegas: ”Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”.
Hampir sepanjang film diputar, kalimat itu terus menerus
terdengar. Ya, minggu lalu saya beruntung bisa menonton film bersama dengan ratusan
anak-anak. Ratusan anak yang tak berayah. Bahkan juga tak beribu lagi. “Negeri
5 Menara” begitu judul filmnya.
Film ini bercerita tentang perjalanan Alif. Seorang
remaja yang baru saja merayakan kelulusan SMP. Dia bercita-cita atau setidaknya
berangan-angan untuk melanjutkan SMA di Kota Bandung. Lalu setelah itu masuk ke
ITB. Namun angan-angan itu buyar. Ketika ayahnya bermaksud lain.
Sang ayah, yang seorang guru, menginginkan Alif masuk Pondok Madani. Sebuah pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Awalnya Alif kecewa dengan keputusan ayahnya itu. Namun akhirnya Alif bisa menerima setelah ayahnya memberikan nasehat. “Jalani saja dulu” begitu katanya.
Setelah melalui adegan lucu tentang koyo di bis jurusan Jawa
(setahu saya saja), singkatnya Alif yang diantar ayahnya sampai di pondok. Semula
saya kira Alif langsung masuk dan sekolah begitu saja. Tetapi ternyata Alif
harus mengikuti test. Tes yang digambarkan diikuti oleh ribuan anak dari
berbagai daerah. Hanya ratusan saja yang dapat ditampung di pesantren.
Alif lulus. Lalu bertemu dengan keenam santri lain yang
kebetulan satu “kamar” dengannya. Jangan tanya nama-namanya karena yang teringat
hanya Baso dari Goa Sulawesi Selatan. Inilah sebenarnya awal cerita di Film
ini. Sayangnya sampai adegan ini, rol film kelihatannya sudah sampai
setengahnya. Artinya sebentar lagi akan selesai.
Adegan berikutnya banyak banget yang menarik. Misalnya adegan
enam santri di bawah menara pesantren sedang melihat sekumpulan awan. Lalu
membayangkan awan itu kota-kota didunia. Dan akhirnya mereka berjanji akan saling
mengirimkan foto disamping menara-menara kota itu.
Ada pula adegan latihan badminton yang membuat Alif salah
tingkah. Karena bertemu santriwati cantik (sekali) yang namanya lupa juga.
Keponakan sang Kyai. Yang bisa membuat Alif mati-matian berusaha belajar
potografi dan menjadi wartawan majalah pesantren, agar bisa mewawancarai sang
Kyai. Tentu saja bonus yang didapat adalah bertemu sang pujaan hati.
Adegan pementasan drama “Ibnu Batutah” oleh angkatan Alif
juga diperlihatkan. Namun kesan saya kok terlalu berlebihan ya. Dari awal dikesankan
bahwa para santri itu bukan anak orang kaya. Tapi kok bisa sewa macam-macam.
Pasang lampu sorot, sewa baju pentas, sound sistemnya luar biasa deh. Penari-penari
yang ditampilkan terlalu kelihatan penari profesional, bukan santri. Kurang realistis.
Setidaknya itu menurut saya.
Ada satu adegan yang sebenarnya cukup berkesan. Diceritakan
Baso, salah satu teman Alif. Pulang kampung untuk menjaga neneknya yang sakit. Baso
terlihat sedang menyuapi neneknya dan mengajar anak-anak kampungnya mengaji. Hal
itu hampir saja membuat air mata saya menetes. Tapi nggak jadi. Tidak tahu
sebabnya.
Sedikit rasa kecewa pada film itu. Tetapi segera terobati
melihat wajah anak-anak yatim yang menonton bersama saya terlihat cerah.
Beberapa diantaranya bahkan mungkin baru sekali itu nonton di bioskop. Paling
tidak mereka bisa jalan-jalan, makan-makan, tertawa bersama-sama.
Alhamdulillah...

No comments:
Post a Comment