
Pernah nonton film “Punk in Love”? Film produksi tahun 2009 yang dibintangi oleh Vino.G Bastian (Arok), Yogi Finanda (Mojo), Andika Pratama (Yoji ), Aulia Sarah (Almira) ini bercerita tentang 4 orang anak “Punk” sewaktu perjalanan ke Jakarta dari Malang, dengan modal “cekak” untuk mengantar sang teman “mengejar cinta”nya. Film bergenre komedi romantis (menurut saya tentunya) yang diselingi umpatan khas “Suroboyoan” seperti “Dancuk”, “Rai-mu”, “Bedhes” dan lainnya, bagi saya sangat menarik untuk ditonton berulang kali. Disamping karena emang lucu, tapi ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan yaitu Anti Kemapanan.
Anti kemapanan? Ya betul, anak Punk diceritakan dalam film itu sebagai kelompok anti kemapanan. Kalau kamu berpikir anti kemapanan itu sama dengan semaunya sendiri, urakan, nyleneh, aneh dan sebagainya, sama sekali tidak salah, namun masih kurang tepat.
Dalam sebuah percakapan, Almira (Aulia Sarah) berkata “Anti kemapanan itu untuk aturan yang dibuat masyarakat, teori-ne kita gak perlu aturan sing baku untuk menjalani hidup, kita bebas milih untuk hidup kita sendiri” lalu Mojo (Yogi Firnanda) menimpali “Iyo, swasembada!, mencukupi kebutuhan sendiri pake caranya sendiri, iyo ora?”. Dalem banget ya, emang, itulah yang membuat film ini menarik, sentilan itu membuat saya berpikir, bahwa ternyata saya anak Punk juga.
Lho? Berarti potongan rambut kamu sekarang mohawk? Pake celana jins sobek-sobek, pake baju yang ada paku payungnya trus pake sepatu bot trus trus.... jawabannya adalah ya tentu tidak!, maksudnya adalah keinginan untuk mandiri alias swasembada itu yang ada dalam diri saya. Keinginan untuk tidak tergantung dengan orang lain, keinginan untuk bebas memilih mau memakai cara apa saja untuk mencukupi kebutuhan sendiri.
Dalam satu adegan, ketika akan berangkat ke Jakarta, Mojo datang kepada Ibu-nya untuk sungkem mohon doa restu supaya maksud dan tujuan dia dan teman-temannya ke Jakarta terpenuhi, dan Ibu-nya lalu memberi restu. Adegan itu diakhiri dengan cium tangan sang Ibu oleh masing-masing anak Punk. Hal ini mengingatkan saya sama doa orang tua terutama Ibu, sangat diperlukan untuk kelancaran upaya saya menempuh kemandirian. Hal ini juga mengingatkan saya bahwa apa pun cara yang ingin kita tempuh, harus di barengi dengan etika. I’m “Punk in Love”.
No comments:
Post a Comment