Paklik ku saat ini sedang dalam masa percobaan. Bukan karena baru masuk kantor yang baru atau semacamnya, tapi sedang mendapatkan musibah penyakit yang biasanya menimpa orang-orang kaya, stroke. Sekitar 8 bulan yang lalu beliau sakit didada yang sangat. Sebegitu sakitnya sampai nelpon Aku hanya untuk nganter ke dokter. Oleh dokter dikasih obat untuk mengrangi pegal tersebut karena tekanan darah sama nadinya (diperiksa tangan saja) cukup normal. Tapi dokter mrngingatkan obatnya diminum paling banyak 2 butir sehari dan kalau sakit saja, karena berefek samping maag.
Kemudian kami pulang dari dokter dan aku langsung pamitan saja. Aku dengar kemudian, obat pertama diminum, belum terasa perubahan apa-apa. Sore hari minum lagi, belum terasa efeknya. Dan ini yang terakhir, obat ketiga diminum malam harinya (lihat paragraph sebelumnya tentang pesan dokter…)—belakangan aku baru tahu alasan beliau minum itu biar cepat sembuh. Esok paginya, mudah diduga, perut beliau mulai sakit, siangnya bibir mulai celat. Aku tawarkan untuk ke rumah sakit saja, tapi anti pati duluan, kata beliau kalau ke RS minggu begini (hari itu memang minggu) cuma dibiarin aja, kan dokternya libur. Tapi coba kuyakinkan kalau di RS kan ada penanganan darurat itu yang penting. Debat seperti itu cukup lama sekitar 30 menit, ditambah alasan ini itu akhirnya sempat ke RSnya baru malam harinya.
Singkat cerita akhirnya beliau opname selama 2,5 bulan di RS. Tidak sampai operasi sih, hanya harus banyak fisioterapi untuk memulihkan bagian kanan tubuhnya yang sudah terlanjur lumpuh, terutama kaki dan tangannya.
Satu bulan dari RS, Paklik sudah bisa jalan kaki meskipun agak tertatih. Keluhan yang aku perhatikan waktu itu, dadanya terasa berat sehingga cenderung mambungkuk, malu dilihatin orang, karena jalannya tertatih begitu terus obanya banyak macam dan bau serta rasanya gak enak.
Saat ini kondisi Paklik malah menurun karena menurut dokter kemungkinan terserang stroke yang kedua kalinya karena kaki kanannya mengalami kelumpuhan lagi seperti dulu, tidak bisa buat jalan kaki lagi. Keluhan sekarang, 6 bulan setelah keluar dari RS sama dengan waktu keluar pertama kali, dada berat, malu, dan obatnya banyak ditambah ‘kok aku wis usaha rono rene, raono perkembangan ki piye?’ (kok aku udah usaha kesana-kesini, tidak ada perkembangan gimana?).
Setiap aku tengok ke rumahnya, hampir setiap minggu kalau gak aku ya istriku kesana nengokin, keluhan yang kami dengarkan sama. Aku tidak tahu apakah keluhan itu benar-benar yang dikeluhkan atau hanya indikasi ingin diperhatikan saja. Setiap keluhan keluar, setiap kali itu pula aku sering bilang sabar om, sabar dengan berbagai bahasa, biar gak bosen aja.
Aku sangat paham dengan kondisi Paklik yang seperti itu ditambah dengan karakter Paklik yang sangat prefeksionis, menjadikan kondisi yang sangat tidak nyaman. Aku tidak tahu hal yang sebenarnya diinginkan oleh Paklik itu, tentu diluar keinginan sembuhnya. Aku tahu beliau seorang yang sangat agamis, dididik dengan agama yang sempurna, kenapa tidak bisa, atau belum bisa, menerapkan ‘sabar’ itu.
No comments:
Post a Comment