Beberapa
waktu yang lalu saya mendengar sebuah cerita tentang babi. Singkat kata
dikisahkan seorang Muallaf ditanya apa daging yang paling enak menurutnya. Dan
jawabannya adalah, babi. Dia sangat sadar bahwa ketika masuk Islam, maka dia
diharamkan makan babi. Tetapi jawaban itulah yang selalu terlontar jika ditanya
hal yang sama.
Lain lagi ketika saya
melihat salah satu adegan dalam film berjudul agak aneh, “?”. Film yang dibintangi Reza Rahardian dan
Revalina Sayuthi Temat itu sering pula ditulis berjudul “Tanda Tanya”. Lepas
dari kontroversi yang menyertainya, dalam salah satu adegan, Tan Kat Sun
(Hengky Solaeman) pemilik sebuah restoran china, berkata Hendra (Rio Dewanto)
anaknya. “Kalo memasak ayam, banyakin bumbu biar mantap, tapi kalo masak babi,
kasih bumbu secukupnya saja, karena daging babi sudah gurih” begitu kira-kira
bahasanya.
Dua cerita di atas saya
kira cukup menggambarkan betapa lezatnya masakan daging hewan penyuka lumpur
itu. Tetapi betapapun enak dan mantapnya, bagi umat Islam, tetap saja haram bin
dosa untuk mengkonsumsinya. Kriteria najis mugholadhoh untuk sekedar
menyentuhnya, mengharuskan mencuci dengan air tujuh kali salahsatunya dicampur
dengan tanah, agar kembali suci.
Dalam Al Quran Surah Al
Maidah ayat 3 Alloh SWT berfirman yang artinya “Diharamkan atas kalian memakan
bangkai, darah (yang mengalir), daging babi, dan apa saja yang disembelih atas
nama selain Allah”. Dan itulah satu-satunya jawaban yang pantas untuk
dilontarkan ketika pertanyaan “kenapa babi diharamkan dimakan”. Memang sudah
pasti banyak hikmah yang terkandung didalamya. Sebut saja misalnya bahwa daging
babi sulit dicerna, mengandung benih-benih cacing pita sampai kemungkinan
penularan sifat-sifat babi kepada yang mengkonsumsinya. Hikmah-hikmah lain bisa
disebutkan, dan jumlahnya mungkin sampai puluhan. Tetapi sebagai umat Islam,
menurut saya, sangat pantas kita menjawabnya dengan “karena Alloh SWT maunya
begitu…”.
Jawaban itu terkesan
pasrah. Enggak mau berfikir, atau apalah itu. Tidak memuaskan sebagian orang
terrutama yang berpikiran sedikit “liberal”. Tetapi itulah Islam. Sami’na wa
atho’na, kami dengar dan kami taat. Suatu saat kita akan bahas masalah sederhana
namun agak sulit dimengerti ini. Robbizidni ‘ilma…
Kembali ke topik. Berdasarkan
uraian di atas lalu apakah bisa disimpulkan Islam membenci babi? Atau pertanyaannya
bisa dilanjutkan, apakah saya, yang Islam ini, harus jijik pada babi?
Tunggu dulu. Babi itu
makhluk Alloh, sebagaimana sapi, kerbau, ayam, unta, kambing dan sebagainya. Jadi
apakah karena Al-Quran melarang kita memakannya, lalu kita membencinya?
Kanjeng
Nabi Muhammad SAW adalah penyayang binatang. Banyak hadist yang membahas
mengenai binatang. Salah satunya ketika Beliau mendapati jubahnya menjadi alas
tidur seekor kucing. Saat akan mengambil jubah itu, alih-alih menariknya, Beliau
malah memotong jubbah tempat alas tidur binatang berkumis itu, hanya agar tidak
membangunkannya.
Rasullulloh SAW juga pernah
berkisah tentang seorang pelacur yang diampuni dosanya hanya karena memberi
minum seekor anjing yang kehausan. Atau ketika memasuki Kota Makkah setelah
menaklukkan tentara Quraisy, salah satu perintah Rasul adalah tidak membunuh
satwa apa pun yang ada di kota suci itu.
Masih banyak kisah lainnya
yang menunjukkan kecintaan Beliau pada binatang. Sebagai umatnya,menurut saya,
sepantasnyalah kita meniru sikap beliau terhadap hewan. Menunjukkan ketaatan
kepada perintah Alloh itu harus kita teguhkan dalam diri. Namun jika sampai
mual-mual sekedar mendengar kata “babi”, saya kira itu berlebihan. Apalagi mengusir
dengan kekerasan (baca : lempar batu) setiap ketemu dijalan, seperti orang kampung saya
ketika melihat anjing, itu juga sangat berlebihan.
Saya Islam. Saya
mengharamkan diri saya dan keluarga saya untuk memakannya. Saya menajiskan
ketika menyentuhnya, bahkan ketika sudah menjadi bangkai sekalipun. Tetapi saya
sayang babi, saya cinta babi, karena dia
juga makhluk Alloh yang pantas menerima akhlak kita, sebagai orang Islam,
kepada binatang.


No comments:
Post a Comment